Populasi Domba Lebih Banyak dari Penduduk Purwakarta

Kabupaten Purwakarta membukukan surplus populasi ternak type domba, lebih-lebih melebihi penduduk. Jumlah masyarakat di kabupaten terkecil ke dua di Jawa Barat 960.000 jiwa. Sedangkan populasi domba 1 juta ekor. Apa rahasinya?

Selain mengintensifkan kebijakan reguler oleh dinas yang membawahi sektor peternakan, Pemerintah Purwakarta terhitung menginisiasi kebijakan-kebijakan yang menunjang agenda pengembangan sektor peternakan.

Salah satunya adalah syarat wajib ternak bagi pejabat yang diangkat. Jadi tersedia syarat tidak tertulis bagi para pejabat yang bakal menggerakkan tugas baru, yakni mereka diharuskan untuk membawa hewan ternak lengkap dengan warga yang bakal pelihara hewan ternak tersebut.

Pegawai esselon II wajib membawa sembilan ekor Domba Dorper atau satu ekor sapi. Sementara pejabat esselon III wajib membawa tiga ekor domba dan pejabat esselon IV wajib membawa dua ekor domba.

“Hewan ternak itu dititipkan kepada warga bukan diberikan. Sistemnya sanggup bagi hasil. Kalau hewan ternaknya berkembang biak andaikan melahirkan dua anak, maka satu anak untuk pemelihara, satu anak untuk pejabat yang punya.

Salah satu pejabat yang diangkat, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Aep Durohman mengaku telah pilih penggembala yang merupakan tetangganya sendiri di Kecamatan Plered Purwakarta.

“Iya sapi satu ekor, tempo hari telah diserahkan ke tetangga,” tutur Aep.

Tak cuma pejabat yang dikenai kewajiban pelihara ternak, tapi terhitung pelajar. Wajib ternak untuk pelajar ini tertuang dalam Peraturan Bupati Purwakarta Nomor 70A mengenai Desa Berbudaya yang diluncurkan sejak 2015 lalu.

Di dalamnya memuat aturan mengenai keharusan bagi pelajar memiliki hewan ternak sendiri dan diwujudkan dalam program Budak Angon. Dengan bertekun bidang peternakan, peserta Budak Angon bakal miliki kebiasaan mencari rumput untuk makanan ternaknya, sehingga berimplikasi positif pada perkembangbiakan hewan ternak yang mereka urus.

Bupati Dedi menuturkan, sampai saat ini, ratusan pelajar tingkat SMP dan SMA di pedesaan telah memiliki hewan ternak sendiri. Bahkan, program Budak Angon dimasukkan ke dalam pelajaran tambahan di sekolah-sekolah.

“Ketika anak-anak menggembala kambing milik tetangganya ini, proses pembelajaran layaknya ini benar-benar mutlak sehingga generasi muda terlatih memproduksi sumber-sumber ekonomi sehingga sanggup melahirkan nilai jadi bagi diri dan keluarganya,” ujar Dedi.